ROKAN HILIR – macannusantara.id Sore yang basah di “Negeri Seribu Kubah” mendadak panas. Meski langit menumpahkan hujan deras pada Jumat (17/4/2026), nyali puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Rokan Hilir tak sedikit pun luntur. Dengan baju basah kuyup dan hanya bermodalkan mobil pick-up, mereka mengepung halaman Mapolres Rokan Hilir demi satu tujuan: Menagih janji dan mengevaluasi kinerja aparat.
Dua Tahun Tanpa “Gigi”: Narkoba Merajalela, Mafia CPO Melenggang
Orasi yang menggema dari pukul 16.30 hingga 17.30 WIB itu bukanlah tanpa alasan. Para mahasiswa menilai kinerja Kapolres Rohil, AKBP Isa Imam Syahroni, selama dua tahun menjabat sangat jauh dari kata memuaskan.
Korlap aksi, Eka, dengan lantang membeberkan “dosa-dosa” penegakan hukum di wilayah tersebut:
Darurat Narkoba: Pemberantasan narkoba dinilai tumpul. Tempat hiburan malam yang diduga jadi sarang transaksi barang haram tetap eksis tanpa sentuhan berarti.
Mahasiswa menyentil keras insiden larinya tahanan kasus narkoba dari sel Mapolres Rohil—sebuah tamparan keras bagi kredibilitas kepolisian.
Mafia CPO Kebal Hukum: Aktivitas mafia CPO diduga beroperasi secara terang-terangan, bahkan lokasinya tak jauh dari markas kepolisian, namun seolah “tak tersentuh”.
“Kami melihat kelemahan nyata pada personel dalam memberantas narkoba. Mafia CPO berpesta di depan mata, tapi penindakan nihil!” tegas Eka di depan pintu masuk Mapolres.
Kapolres Absen, Mahasiswa: “Copot Sekarang Juga!”
Sangat disayangkan, saat massa menuntut penjelasan, sosok nomor satu di Polres Rohil, AKBP Isa Imam Syahroni, tidak berada di tempat. Kabarnya, ia sedang berada di Kecamatan Pasir Limau Kapas (Panipahan). Absennya Kapolres ini menambah kekecewaan mahasiswa.
Rahmat, juru bicara aksi lainnya, dengan suara serak akibat orasi di tengah hujan, meneriakkan tuntutan pamungkas yang membuat telinga panas.
“Tidak ada kata tawar-menawar! Kami minta Kapolda Riau segera mencopot Kapolres Rokan Hilir. Ganti dengan yang lebih bernyali!” teriaknya lewat mikrofon.
Surat Pernyataan Tak Bertuan
Hingga aksi berakhir, suasana tetap kondusif namun tegang. Meski disambut secara humanis oleh personel Polres, para mahasiswa harus menelan pil pahit karena surat pernyataan yang mereka siapkan tidak kunjung ditandatangani oleh pucuk pimpinan.
Mahasiswa mengancam tidak akan berhenti sampai di sini. Jika “raport merah” ini tidak segera diperbaiki oleh Polda Riau, gelombang massa yang lebih besar diprediksi akan kembali mengguncang Mapolres Rohil.
Apakah aspirasi masyarakat “Negeri Seribu Kubah” ini akan didengar, atau hanya akan menguap bersama air hujan? Kita tunggu langkah tegas Kapolda Riau.
(TIM)



















